Orang Indonesia Kurang Peduli Sesama ?

24 Apr 2012

Could I help you to push her wheel chair ? tanya seorang pria blasteran kulit hitam dan bule beraksen Perancis ke suami saat pada saat kami sedang menunggu taksi di f6220e0e0014a38949ddee0ca77b9cf6_wc-3halte menuju General Hospital di Singapura. Pria blasteran yang ganteng dan temannya serta merta menawarkan bantuan untuk mendorong kursi roda saya saat melihat sang suami kerepotan membawa tas dan menyetop taksi. Walaupun kami tidak memerlukan bantuan mereka, tetap saja dua pria ini membukakan pintu taksi untuk saya, membantu suami melipat kursi roda dan membantu menutup bagasi taksi kami.


Karena saya belum kuat berjalan jauh, inilah pertama kalinya saya melakukan perjalanan dengan membawa dan menggunakan kursi roda.


Dua jam sebelumnya ….. Sampai di Bandara Changi Singapura, kami dibantu oleh banyak orang mulai dari tawaran untuk mendorong kursi roda saya turun dari pesawat menuju ke bagian Imigrasi, sampai tawaran dari orang yang tidak kami kenal untuk mendorong kursi roda saya ke bagian penjemputan. Kami bahkan tidak perlu mengantri karena seorang petugas di Bandara langsung mendahulukan kami melihat saya menggunakan kursi roda.


Di rumah sakit tempat saya melakukan check up, a8ce648d17658cc996a72c27edd7af8a_wc-5seorang Receptionist wanita langsung berdiri dari counter-nya tanpa kami harus mengantri dan mendekati saya untuk memberikan bantuan mulai dari pendaftaran sampai bertemu dengan dokter yang sudah kami atur sebelumnya. Semuanya terasa mudah walaupun saya harus berada diatas kursi roda yang didorong suami kesini-kesana.


Trotoar yang memudahkan akses untuk kursi roda, membuat suami membawa saya berjalan-jalan dan makan di beberapa mall yang gak jauh dari rumah sakit. Saya merasa nyaman karena tidak ada yang menatap saya keheranan. Setiap kali kami akan memasuki satu toko, serta merta petugas toko mendekati kami dan bertanya pada suami apakah perlu bantuan. Tibalah kami pada jalan underpass yang menghubungkan ea94157d6f85a192f1371c0cee292659_wc6dua mall di Orchard Road. Kami tidak tahu ternyata tidak ada lift yang menghubungkan lantai satu ke underground tetapi hanya tersedia escalator dan tangga. Sudah terlanjur berjalan jauh, akhirnya saya berdiri sementara suami mendorong kursi roda yang kosong melalui escalator dan tangga. Entah dari mana datangnya seorang perempuan sebaya saya langsung memegang tangan dan membantu saya menaiki escalator. I just want to make sure you are okay… katanya lagi ramah sambil tetap memegang tangan saya sampai ke ujung escalator. Wanita Singapura ini kemudian melambaikan tangan sesudah membantu saya duduk kembali di atas kursi roda. Kami ternyata harus melalui satu tangga lagi, sekali lagi saya harus berdiri sementara suami mengangkat kursi roda saya untuk menuruni tangga bersama-sama. Tiba-tiba seorang pria plontos mendekati suami ..Can I help you? yang langsung dijawab manis gak usah repot-repot, terima kasih. Pria ini kemudian tersenyum dan berjalan lagi, tetapi kemudian memutar badan lagi ke arah kami …Are you sure you could manage ? … let me help you … Akhirnya suami memperbolehkan pria ini mengangkat kursi roda bersama-sama menuruni anak tangga.


Kami mampir disebuah coffee shop yang ramai, melihat kami masuk memakai kursi roda langsung saja seorang waitress membantu kami mendorong si kursi dan mencarikan meja yang kosong. Seorang Ibu bule yang menikmati kopi sambil duduk sendirian di sofa, tiba-tiba berdiri dan bertanya apakah mau bertukar tempat supaya saya bisa duduk di sofa. Betapa manisnya perhatian mereka terhadap kami.


Waktu makan malam tiba, 389d13f4b12fa32e8f244d184bbfbec6_wc7kami berjalan kembali ke mall dekat hotel sesudah ketiduran karena kelelahan. Sudah hampir jam 10 malam walau banyak restoran yang masih penuh dengan pengunjung tetapi ternyata kami sudah melewati waktu last order. Melihat kami datang dengan kursi roda, seorang waitress berwajah Melayu mendekati kami dan bilang jika kami diberi 15 menit untuk order dan meminta kami menunggu karena akan diberikan table di dalam restoran dan tidak di luar. Membantu kami memarkir kursi roda, akhirnya kami masih bisa bersantap malam walaupun sudah terlambat dari waktu last order mereka. Sudah jam 11 malam yang biasanya orang terburu-buru menutup toko atau restoran supaya cepat selesai, Sang Waitress tadi masih menyempatkan diri membukakan pintu untuk kami dan membantu suami mempersiapkan kursi roda saya. Saya tidak pernah mendapatkan pengalaman ini di Jakarta, mengucapkan terima kasih dan menjabat tangannya.

Kembali lagi saya di Jakarta.

Tiga hari sebelumnya …..


27a317d153f9752d4ac54325ac5923a4_wc-4Saya yang masih harus duduk di kursi roda karena belum kuat berjalan jauh, hampir tergencet pintu lift apartemen karena Mbak Pembantu yang kerepotan mendorong kursi roda saya ke dalam lift tidak menahan pintu lift yang secara otomatis tertutup sendiri. Ada dua pria yang sudah ada di dalam tidak berusaha membantu menahan pintu lift supaya tidak tertutup. Mereka menatap saya dan menyaksikan adegan tadi dengan hikmat tanpa bersuara (dugh!). Saya hanya menghela nafas … untung gak kegencet ….. dan untung sang suami sudah duluan turun ke lobi membawa tas, kalau gak waduh bakalan rame melihat adegan tadi.


Menunggu jemputan di lobi apartemen, beragam orang berlalu lalang, dan hampir semua menatap saya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Sudah beberapa bulan di atas kursi roda, saya menjadi terbiasa mendapat tatapan tidak jelas dari banyak orang. Suami sibuk memasukan tas-tas kami ke dalam bagasi, Mbak Pembantu sibuk mendorong kursi roda saya dan menuntun saya masuk ke dalam kendaraan diiringi tatapan mata banyak orang yang berdiri di lobi untuk urusan mereka masing-masing.


89743e442f599bda00edf4362dc5841b_wc-2Saya jadi ingat, sehari sebelumnya suami mengajak saya makan siang di sebuah restoran Jepang di mall dekat tempat tinggal kami. Melihat kami datang dengan kursi roda semua waitress berdiri memandang kami, saya bingung bagaimana melewati jalan menuju ke meja yang kosong karena ada beberapa kursi menghalangi jalan kami. Karena suami belum fasih berbahasa Indonesia, akhirnya saya yang berteriak …Mbak, tolong dibantu dong supaya kita bisa lewat … dan mereka bergerak menggeser kursi-kursi tersebut.

* * * *


Hanya 1 jam 20 menit saja untuk sampai ke Singapura dari Jakarta.


Tetapi megapa orang-orangnya berbeda ?


Orang Indonesia yang konon (dulu) terkenal ramah-tamah, sopan santun dan saling 80b8be990d740e3c0c398eb69b4852d4_wc-9tolong menolong, tetapi mengapa saya tidak dapat melihat dan merasakan itu terutama dalam perjalanan hidup saya beberapa bulan ini di atas kursi roda ?

Tidak ada yang berinisiatif membantu tetapi malah memberi tatapan dari kaki sampai ke rambut saya seakan-akan bertanya ..kenapa sih si Mbak ini duduk di kursi roda. Bahkan di mall yang tergolong upper market di Jakarta ini saja tidak ada yang menawarkan bantuan hanya tatapan tajam yang tidak saya mengerti maknanya.


Saya tidak mau membebani pikiran saya dengan banyak pertanyaan Mengapa.

40e80327edd39e1301a3f0c2c9b85a1f_wc-8Yang saya tahu saya akan pulih kembali dan tidak akan menggunakan kursi roda lagi, dan saya akan sebisa mungkin membantu mereka yang entah ada di kursi roda, orang-orang tua atau cacat yang mesti didahulukan atau bahkan Ibu hamil yang tanpa mereka minta seharusnya mereka ini juga yang mesti kita perhatikan dan pedulikan sehingga hidup akan terasa lebih nyaman dan mudah untuk mereka.


TAGS indonesia Singapura kursi roda cacat peduli sesama perhatian sinta sutannti


-

Author

Follow Me